Icon Event Memuat waktu...
  • 24 Feb 2026

Sukses menahan lapar hingga magrib belum tentu sukses berpuasa di mata Tuhan. Waspadai amalan-amalan "receh" yang tanpa sadar menggerus, bahkan menghapus total pahala shaum Anda hari ini.

Jam menunjukkan pukul 17.30. Di jalanan Jakarta yang padat merayap, seorang pengendara motor mengumpat kasar karena disalip mendadak. Di sebuah kafe yang menunggu waktu berbuka, sekumpulan teman asyik berbisik membahas 'aib' rekan kerja mereka yang tidak hadir. Di ruang keluarga, seseorang sibuk menggulir layar ponsel, jempolnya lincah mengetik komentar pedas nan julid di akun selebriti.

Mereka semua sedang berpuasa. Tenggorokan mereka kering, perut mereka keroncongan. Secara fikih, puasa mereka sah karena tidak ada makanan atau minuman yang masuk. Namun, di dimensi yang lebih tinggi—di "buku catatan langit"—pahala puasa mereka mungkin sedang terkikis hebat, menetes habis seperti air dalam ember bocor, hingga tak tersisa apa pun saat azan magrib berkumandang selain rasa lapar dan dahaga semata.

Ini adalah fenomena yang dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad SAW ribuan tahun lalu. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, beliau memberikan peringatan keras yang sering kita lupakan: "Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga."

Mengapa ini terjadi? Karena kita sering kali terjebak pada definisi puasa yang paling dasar: puasa perut dan kemaluan. Kita lupa bahwa esensi Ramadan adalah imsak, yang berarti menahan. Bukan hanya menahan mulut dari suapan nasi, tetapi menahan seluruh pancaindra dan hati dari "amalan receh"—dosa-dosa kecil yang kita anggap remeh karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Di Metavora, kami mengajak Anda untuk melakukan audit spiritual. Mari kita bedah tiga "gerusan receh" utama yang paling sering menghapus nilai puasa manusia modern tanpa disadari:

1. Lisanku, Harimauku (Ghibah dan Namimah)

Ini adalah dosa paling klasik namun paling mematikan bagi pahala puasa. Saat menunggu waktu berbuka (ngabuburit), obrolan ringan sering kali berbelok menjadi sesi ghibah (menggunjing) yang terasa nikmat. Kita merasa itu hanya "sekadar berbagi informasi", padahal itu adalah kanibalisme spiritual.

Bagaimana mungkin kita sanggup menahan diri dari memakan daging sapi yang halal di siang hari, namun dengan lahap "memakan bangkai daging saudara sendiri" melalui gunjingan? Puasa mulut dari makanan itu mudah; puasa mulut dari kata-kata sia-sia (laghwun) dan menyakiti itulah ujian yang sebenarnya. Satu kalimat ghibah yang terucap bisa menghapus berjam-jam perjuangan menahan lapar.

2. Jempol dan Mata yang Tak Berpuasa (Jebakan Digital)

Di era digital, medan pertempuran puasa berpindah ke layar 6 inci di genggaman kita. Kita berpuasa di dunia nyata, tapi liar di dunia maya.

Amalan receh di sini bentuknya beragam: scrolling tanpa henti melihat konten pamer aurat yang meracuni pandangan, berkomentar negatif dan provokatif (namimah digital), hingga menyebarkan berita hoaks tanpa verifikasi. Setiap kali mata kita menikmati tontonan yang tidak pantas, atau jempol kita mengetik kebencian, saat itulah kualitas puasa kita sedang terjun bebas. Puasa seharusnya menundukkan pandangan, bukan malah memanjakannya di etalase media sosial.

3. Emosi yang Gagal Dijinakkan (Sindrom 'Hangry')

Rasa lapar dan haus secara alami membuat sumbu emosi manusia memendek. Istilah populernya: hangry (hungry + angry). Namun, justru di situlah letak ujiannya.

Marah-marah karena terjebak macet, membentak pasangan karena urusan sepele di rumah, atau bersikap kasar pada pelayan restoran yang terlambat menyajikan takjil, adalah bentuk kegagalan menahan diri. Puasa tanpa kesabaran hanyalah penyiksaan diri. Jika api amarah dibiarkan menyala, ia akan membakar habis kayu bakar pahala yang sudah susah payah dikumpulkan sejak subuh.

Refleksi Metavora: Naik Kelas dari Puasa Awam

Imam Al-Ghazali membagi puasa menjadi tiga tingkatan: Puasa Awam (sekadar menahan makan minum), Puasa Khawas (menahan anggota tubuh dari dosa), dan Puasa Khawasul Khawas (menahan hati dari selain Allah).

Sebagian besar dari kita mungkin masih nyaman di level awam. Kita merasa sudah cukup berprestasi jika berhasil tidak makan hingga magrib. Padahal, target Ramadan adalah mencetak pribadi yang bertakwa, dan takwa tidak bisa dicapai jika kita masih menyepelekan dosa-dosa "receh".

Mari kita ubah mindset. Mulai hari ini, saat Anda merasa lapar di siang hari, ingatlah bahwa rasa lapar itu adalah alarm pengingat. Alarm untuk menjaga lisan dari ghibah, menjaga mata dari tontonan sia-sia, dan menjaga hati dari emosi negatif.

Jangan biarkan Ramadan kali ini berlalu menjadi rutinitas tahunan yang kosong. Terlalu mahal harga lapar dan dahaga yang kita bayar jika hanya ditukar dengan nol besar di hadapan Tuhan. Mari pastikan saat berbuka nanti, kita tidak hanya membatalkan puasa dengan kurma, tetapi juga merayakannya dengan hati yang lebih bersih dan pahala yang utuh terjaga.

Di Metavora, kami mendorong Anda untuk tidak hanya menjadi penahan lapar yang tangguh, tetapi juga menjadi penjaga spiritual yang waspada.

Baca terus Metavora untuk menemukan oase reflektif yang membantu Anda menavigasi tantangan iman di tengah kompleksitas kehidupan modern.

Ummu Shalamah

Books reader