Icon Event Memuat waktu...
  • 27 Feb 2026

Tradisi mengonsumsi kurma dalam jumlah ganjil saat berbuka puasa bukan sekadar ritual keagamaan yang diwariskan berabad-abad, melainkan sebuah mekanisme biologis dan psikologis presisi yang kini divalidasi oleh sains modern untuk memulihkan energi secara instan.

Setiap kali bulan suci Ramadan tiba, jutaan umat Muslim di Indonesia dan di seluruh penjuru dunia selalu memulai ibadah buka puasa mereka dengan mengonsumsi buah kurma saat matahari terbenam. Tradisi membatalkan puasa dengan buah manis ini berawal dari kebiasaan Nabi Muhammad di Jazirah Arab lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu, yang kini telah berevolusi menjadi sebuah standar global untuk pemulihan energi setelah belasan jam tubuh menahan lapar dan haus. Namun, di balik praktik keagamaan yang masif ini, tersimpan sebuah rahasia biokimia yang sangat menakjubkan yang membuat buah gurun ini tidak tertandingi oleh jenis makanan apa pun saat perut berada dalam keadaan kosong. Mengonsumsi kurma, khususnya dalam takaran ganjil, dipadukan dengan tradisi merendamnya menjadi air nabeez, sejatinya adalah sebuah metode pertolongan pertama secara medis yang dirancang secara alamiah untuk mengembalikan keseimbangan glukosa, menstabilkan psikologi yang tertekan, dan mencegah kejutan pada sistem pencernaan manusia yang sedang beristirahat total.

Untuk memahami kehebatan kurma, kita harus melihat apa yang terjadi pada organ dalam kita saat berpuasa seharian. Selama lebih dari dua belas jam tanpa asupan makanan dan minuman, kadar gula darah manusia akan merosot drastis menuju titik terendah. Kondisi kekurangan gula ini membuat otak kekurangan bahan bakar utama, yang sering kali memicu rasa lemas, sakit kepala, pandangan berkunang-kunang, hingga hilangnya fokus dan konsentrasi menjelang sore hari. Ketika azan magrib berkumandang, lambung manusia yang menyusut dan beristirahat tidak siap menerima hantaman makanan berat, apalagi makanan berminyak atau pedas yang sangat digemari masyarakat kita. Di sinilah kurma memainkan peran krusialnya sebagai jembatan penyelamat. Buah kurma mengandung karbohidrat sederhana dalam bentuk fruktosa dan glukosa alami yang sangat mudah dicerna. Menurut berbagai penelitian nutrisi modern yang diterbitkan oleh jurnal kesehatan internasional (www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3992385/), gula alami dalam kurma dapat diserap oleh sel-sel tubuh dan langsung diubah menjadi energi hanya dalam waktu kurang dari empat puluh lima menit setelah dikunyah. Berbeda dengan sirup gula buatan yang memicu lonjakan insulin secara mendadak dan membuat tubuh kembali lemas setelahnya, serat larut yang melimpah dalam kurma mengendalikan pelepasan gula tersebut secara perlahan, memberikan energi yang stabil dan tahan lama.

Dari ratusan varietas kurma yang tumbuh di seluruh dunia, ada satu jenis spesifik yang memiliki kedudukan tertinggi, baik secara historis maupun medis, yaitu kurma Ajwa. Varietas yang secara eksklusif banyak dibudidayakan di kota Madinah ini dikenal luas sebagai kurma favorit Rasulullah. Kurma Ajwa memiliki ciri fisik yang sangat khas, dengan ukuran yang lebih mungil, tekstur daging yang lebih padat dan agak kering, serta warna hitam pekat yang menyelimuti seluruh permukaannya. Warna hitam kelam pada kurma Ajwa ini bukanlah sekadar pigmen biasa, melainkan indikator alami bahwa buah tersebut mengandung tingkat antioksidan polifenol dan flavonoid yang jauh melampaui jenis kurma lainnya. Antioksidan ini adalah pasukan pertahanan utama tubuh untuk menetralisir radikal bebas dan stres oksidatif yang menumpuk di dalam sel selama kita berpuasa. Mengunyah kurma Ajwa perlahan saat berbuka ibarat mengirimkan pasukan perbaikan langsung ke dalam aliran darah untuk memulihkan sel-sel yang rusak akibat dehidrasi dan polusi lingkungan sehari-hari.

Satu aspek yang paling memancing rasa ingin tahu para ilmuwan dan praktisi kesehatan modern adalah anjuran kuat dari tradisi Islam untuk selalu mengonsumsi kurma dalam hitungan ganjil, seperti satu, tiga, lima, atau tujuh butir. Selama berabad-abad, hal ini dianggap sebagai murni anjuran sunah, namun riset nutrisi modern perlahan mulai menemukan korelasi biologis yang sangat masuk akal di baliknya. Mengonsumsi buah kurma dalam jumlah genap sering kali tanpa disadari memicu asupan kalori dan gula yang berlebihan, yang kemudian oleh tubuh akan diubah dan disimpan sebagai lemak cadangan karena jumlahnya melebihi kapasitas pembakaran instan. Sebaliknya, membatasi konsumsi dalam porsi ganjil, khususnya tiga butir yang merupakan porsi paling ideal, menciptakan sebuah rasio keseimbangan yang sempurna antara asupan karbohidrat untuk energi instan dan kalium untuk menyeimbangkan cairan tubuh. Tiga butir kurma menyumbang sekitar seratus kalori, sebuah takaran yang sangat presisi untuk menyalakan kembali metabolisme lambung tanpa memicu lonjakan gula darah yang ekstrem, sekaligus mencegah rasa kantuk yang luar biasa parah setelah kita selesai melaksanakan salat magrib. Bukti klinis mengenai porsi ideal buah-buahan tinggi gula ini juga sering disoroti oleh pakar gizi nasional melalui berbagai ulasan kesehatan (www.kompas.com/sains/read/manfaat-ilmiah-kurma-saat-berbuka-puasa), yang menegaskan bahwa moderasi dalam jumlah ganjil mencegah terjadinya kejutan glikemik.

Lebih jauh dari sekadar urusan perut dan pencernaan, kurma ternyata memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap psikologi dan fungsi neurologis manusia. Rasa lapar yang ekstrem akibat berpuasa sering kali memicu fenomena psikologis yang dikenal dengan istilah "hanger" atau paduan dari rasa lapar (hungry) dan marah (angry). Penurunan gula darah membuat otak kesulitan mengontrol emosi, sehingga orang yang berpuasa sering kali menjadi lebih mudah tersinggung, sensitif, atau kehilangan kesabaran di sore hari. Kurma adalah penangkal alami yang paling efektif untuk kondisi ini. Buah ini sangat kaya akan Vitamin B6 dan mineral magnesium. Vitamin B6 adalah bahan baku utama yang dibutuhkan oleh otak manusia untuk memproduksi hormon serotonin dan norepinefrin, yaitu hormon yang mengatur rasa bahagia, ketenangan, dan kepuasan batin. Sementara itu, magnesium bertindak sebagai relaksan alami bagi sistem saraf yang tegang. Ketika gigitan pertama kurma masuk ke dalam mulut, sensasi manisnya langsung memicu pelepasan dopamin di otak, memberikan efek penenang yang hampir instan dan mengembalikan kewarasan serta stabilitas emosi yang sempat goyah akibat rasa lapar yang menyiksa.

Inovasi konsumsi kurma tidak hanya berhenti pada memakannya secara utuh. Salah satu warisan pengobatan klasik yang kini kembali menjadi tren kesehatan global adalah air infus kurma atau yang secara historis dikenal dengan sebutan air nabeez. Proses pembuatan air nabeez ini sangat sederhana namun menghasilkan reaksi kimiawi yang luar biasa; beberapa butir kurma ganjil direndam di dalam segelas air matang bersuhu ruang dan dibiarkan tertutup semalaman penuh untuk diminum pada saat makan sahur keesokan harinya. Proses perendaman lambat ini membuat dinding sel kurma melepaskan seluruh kebaikan mineralnya—seperti potasium, kalsium, fosfor, dan zat besi—langsung ke dalam air. Hasilnya adalah sebuah minuman isotonik alami yang jauh lebih unggul dan aman dibandingkan minuman olahraga kemasan pabrik yang penuh dengan pewarna dan pengawet buatan. Air nabeez bekerja secara ajaib dengan menyeimbangkan kadar asam lambung yang biasanya meningkat selama kita tertidur. Meminumnya saat sahur akan menghidrasi sel-sel tubuh secara maksimal, memberikan cadangan cairan elektrolit yang akan menjaga tubuh tetap segar, dan membuat rasa haus tidak mudah menyerang meski harus beraktivitas di bawah terik matahari siang.

Menganalisis seluruh keajaiban dari sebutir buah berwarna kecokelatan ini, kita disadarkan bahwa apa yang sering kali kita anggap sebagai sekadar makanan pembuka puasa rutin, sejatinya adalah mahakarya alam yang dirancang secara spesifik untuk menyembuhkan tubuh. Kurma menyatukan kearifan tradisi kuno dengan fakta sains biologi yang paling mutakhir. Ia mengajarkan kita tentang pentingnya kelembutan dalam memperlakukan tubuh kita sendiri; bahwa organ pencernaan yang telah berpuasa tidak boleh disiksa dengan makanan yang memberatkan, melainkan harus dibangunkan secara perlahan dengan nutrisi yang murni, lembut, dan kaya akan energi pemulihan.

Di Metavora kami memandang bahwa tradisi mengonsumsi kurma ganjil dan air nabeez adalah contoh paling sempurna dari harmonisasi antara kearifan spiritual historis dan presisi sains medis modern, yang membuktikan bahwa alam telah menyediakan solusi nutrisi terbaik bagi tubuh manusia jauh sebelum ilmu gizi modern diciptakan.

Baca terus artikel-artikel menarik dari Metavora seputar rahasia nutrisi alami, kebiasaan sehat berbasis sains, dan panduan gaya hidup modern untuk kesejahteraan fisik dan mental Anda.