Icon Event Memuat waktu...
  • 26 Feb 2026

Mengupas Tren Fashion Pria Urban Saat ini

Tren fashion pria di Indonesia saat ini mengalami pergeseran dinamis menuju potongan oversized dan gaya minimalis elegan, meninggalkan pakaian ketat demi mengutamakan kenyamanan struktural serta material berkualitas tinggi.

Lanskap mode pria di kota-kota besar Indonesia saat ini mengalami perubahan radikal yang secara langsung mengubah cara berpakaian para profesional muda dan mahasiswa di ruang publik. Pria urban tidak lagi memaksakan diri mengenakan kemeja yang mencekik leher atau celana berbahan kaku yang membatasi ruang gerak kaki hanya demi terlihat rapi di tempat kerja maupun saat bersosialisasi. Pergeseran ini ditandai dengan dominasi gaya jahitan santai atau yang di dunia mode dikenal dengan istilah relaxed tailoring. Konsep ini pada dasarnya adalah membuat pakaian resmi seperti kemeja, celana kain, dan jas pelapis luar menjadi jauh lebih longgar, jatuh mengikuti bentuk tubuh secara alami, dan memberikan ruang sirkulasi udara yang sangat dibutuhkan di tengah iklim tropis Indonesia. Laporan tren mode dari berbagai pengamat gaya hidup, seperti yang diulas secara mendalam oleh portal berita gaya hidup Kompas, mengonfirmasi bahwa kenyamanan fisik kini menempati urutan pertama dalam daftar prioritas pria saat berbelanja pakaian, mengalahkan obsesi masa lalu terhadap merek-merek mewah yang berharga selangit namun tidak nyaman saat dikenakan seharian di tengah cuaca panas.

Dominasi pakaian berpotongan ketat (slim-fit) yang sempat merajai dekade sebelumnya kini resmi digantikan oleh potongan oversized yang tidak terstruktur (slouchy). Pria di tanah air semakin gemar mengenakan celana berpipa lebar (wide-leg pants) dengan potongan pinggang tinggi yang memberikan ilusi postur tegap tanpa membatasi ruang gerak. Menurut laporan mode dari IDN Times (www.idntimes.com/men/style/prediksi-tren-fashion-pria-2026-lebih-ekspresif-dan-penuh-statement-c1c2-01-k7db6-tl40lf), luaran ekspresif seperti oversized blazer dengan area bahu yang dipanjangkan dan kerah lebar kini berstatus sebagai busana wajib pakai (statement piece). Potongan kotak dan longgar dari mantel maupun blazer ini memberikan kebebasan maksimal sekaligus menciptakan siluet maskulin yang rileks berwibawa. Pendekatan berlapis (layering) juga semakin digemari, seperti memadukan kemeja jaket (shacket) dengan kaus dasar polos untuk menghasilkan tampilan yang terencana namun terlihat seolah tidak butuh banyak usaha.

fashion-pria-05
 

Di balik siluet longgar tersebut, filosofi kemewahan yang sunyi (quiet luxury) tetap menjadi fondasi utama berekspresi. Konsep ini menolak pamer logo merek secara mencolok dan lebih menitikberatkan pada kualitas jatuhnya kain serta presisi jahitan. Namun, tren terkini menyuntikkan keberanian visual melalui permainan warna yang kontras namun terukur. Analisis dari jurnal mode XSML Fashion (www.xsmlfashion.com/fashion/tahun-baru-makin-fashionable-ini-tren-fashion-pria-2026-yang-wajib-kamu-coba/) mencatat adanya pergerakan kuat menuju warna-warna bumi (earthy tones) seperti hijau zaitun (olive), krem pasir (sand beige), dan terakota sebagai fondasi pakaian. Warna-warna solid yang membumi ini kemudian ditabrakkan dengan luaran berwarna lebih cerah dan segar, seperti kuning mentega (butter yellow), sage green, hingga biru pucat (powder blue). Perpaduan warna ini sukses menciptakan lapisan visual yang cerdas; seorang pria dapat tampil sangat kalem pada lapisan dalam pakaiannya, namun langsung mencuri perhatian melalui mantel atau kardigan luar yang ia kenakan.

Pudarnya tren pakaian ketat atau slim-fit adalah fenomena paling mencolok yang bisa kita amati di jalanan saat ini. Selama lebih dari satu dekade, pria Indonesia terbiasa menggunakan celana jins atau celana bahan yang melekat ketat pada paha dan betis. Celana jenis ini sering kali menghambat aliran darah, membuat tubuh cepat berkeringat, dan membatasi mobilitas saat harus bergerak cepat mengejar transportasi umum atau duduk berjam-jam di depan meja kerja. Sebagai jalan keluarnya, pasar mode kini sepenuhnya dikuasai oleh celana berpipa lebar atau celana gombrang (wide-leg pants). Celana jenis ini memiliki potongan lurus dari pangkal paha hingga menyentuh punggung sepatu, memberikan ruang ekstra yang sangat lega bagi kaki untuk bernapas. Banyak dari celana ini juga mengadopsi gaya lipatan kain di bagian pinggang depan (pleated pants). Lipatan ini bukan sekadar hiasan atau gaya bapak-bapak zaman dahulu, melainkan sebuah teknik jahitan cerdas yang berfungsi seperti akordion; ia akan merenggang dan memberikan kelonggaran ekstra pada area perut ketika pemakainya duduk setelah makan siang, sehingga perut tidak terasa tertekan oleh sabuk celana.

fashion-pria-03
 

Selain celana yang melonggar, bagian atasan busana pria juga mengalami evolusi yang sangat melegakan. Aturan kaku bahwa pria harus memakai kemeja lengan panjang yang disetrika kaku dan dimasukkan rapat-rapat ke dalam celana kini mulai ditinggalkan, digantikan oleh gaya bertumpuk atau layering yang lebih cerdas dan adaptif terhadap suhu udara. Pria modern kini sangat menggemari kemeja dengan kerah terbuka berbentuk huruf V yang lebar di bagian dada, atau yang lazim disebut sebagai kerah Kuba (Cuban collar). Kemeja jenis ini biasanya terbuat dari kain rayon atau linen murni yang sifatnya sangat sejuk, tipis, dan menyerap keringat dengan sempurna. Alih-alih mengancingkannya hingga ke leher, kemeja ini sering kali dibiarkan tidak terkancing dan difungsikan sebagai jaket luar tipis (outerwear). Di bagian dalamnya, mereka memadukannya dengan kaus oblong polos berbahan katun berkualitas tinggi. Gaya bertumpuk ini memungkinkan seorang pria untuk terlihat santai namun tetap rapi terencana. Jika udara sedang sangat panas di siang hari, kemeja luar bisa dilepas dan ia tetap terlihat pantas dengan kaus polosnya. Sebaliknya, saat memasuki ruang kantor yang berpendingin udara cukup dingin, kemeja luar tersebut kembali difungsikan sebagai penghangat yang tidak kaku.

Pergeseran drastis lainnya terjadi pada cara pria memandang logo merek pada pakaian mereka. Di masa lalu, memakai kaus atau jaket dengan tulisan merek desainer ternama yang dicetak sangat besar di bagian dada dianggap sebagai simbol status dan kesuksesan finansial. Namun, tren saat ini justru berbalik seratus delapan puluh derajat menuju estetika kemewahan yang sunyi atau quiet luxury. Pria yang benar-benar memahami gaya kini merasa malu jika tubuhnya dijadikan papan iklan berjalan oleh merek-merek pakaian. Mereka lebih memilih pakaian polos tanpa logo sama sekali, namun terbuat dari material kain yang sangat istimewa. Misalnya, alih-alih membeli kaus berlogo besar seharga jutaan rupiah yang terbuat dari bahan campuran plastik (poliester) yang membuat gerah, pria kini lebih cerdas mengalokasikan dananya untuk membeli kaus tanpa merek berbahan katun Supima. Katun jenis ini dikenal sebagai salah satu kapas terbaik di dunia yang rajutannya sangat padat, permukaannya sehalus sutra, tidak mudah melar di bagian kerah meski dicuci berkali-kali, dan memberikan sensasi dingin saat bersentuhan dengan kulit. Fokus pada kualitas benang, kekuatan jahitan, dan keawetan warna inilah yang kini menjadi standar baru untuk menilai apakah seorang pria benar-benar memiliki selera berpakaian yang berkelas atau sekadar ikut-ikutan tren sesaat.

fashion-pria-01
 

Dominasi warna pada lemari pakaian pria juga mengalami perubahan yang menyejukkan mata. Warna-warna terang benderang yang menyilaukan mata atau pola gambar yang terlalu ramai kini digantikan oleh palet warna bumi (earth tones) yang menenangkan secara psikologis. Para ahli mode dan penata gaya profesional, sebagaimana dianalisis dalam kajian warna mode lokal, menyimpulkan bahwa warna-warna seperti hijau zaitun pudar, cokelat tanah liat atau terakota, krem pasir pantai, dan biru dongker pekat adalah warna-warna yang paling bersahabat dengan warna kulit asli mayoritas pria Indonesia yang cenderung sawo matang atau kuning langsat. Warna-warna solid yang terinspirasi dari alam ini memberikan kesan maskulin yang matang, ramah, dan sangat mudah untuk dipadu-padankan satu sama lain di pagi hari ketika seorang pria terburu-buru bersiap berangkat kerja. Menggabungkan celana berwarna hijau zaitun dengan kaus berwarna krem pasir tidak akan pernah terlihat salah atau norak. Kesederhanaan warna ini secara tidak langsung membantu mengurangi beban pikiran pria dalam memilih pakaian, sekaligus memastikan mereka selalu tampil harmonis dalam situasi santai di kedai kopi maupun saat pertemuan semi-formal dengan klien bisnis.

Perkembangan gaya busana di bagian atas tubuh ini secara otomatis memaksa terjadinya revolusi pada alas kaki. Era sepatu olahraga bersol sangat tebal dan berdesain rumit yang sempat merajai jalanan perlahan mulai surut. Meskipun sepatu kets masih digunakan untuk berolahraga, untuk kegiatan harian dan bersosialisasi, para pria kini kembali melirik sepatu klasik berbahan kulit namun dengan sentuhan desain yang lebih kekinian. Sepatu jenis loafers, yaitu sepatu kulit tanpa tali yang pemakaiannya cukup diselipkan ke kaki seperti memakai sandal tertutup, kini meledak di pasaran. Sepatu ini menjadi jembatan penyelamat yang sempurna karena ia terlihat cukup formal untuk dibawa masuk ke ruang rapat kantor, namun juga terasa cukup santai untuk dipakai nongkrong di akhir pekan. Agar tidak terlihat terlalu tua atau kuno, produsen sepatu lokal kini memodifikasi loafers tersebut dengan menempelkan sol karet yang lebih tebal dan empuk di bagian bawahnya. Modifikasi ini tidak hanya membuat pemakainya terlihat sedikit lebih tinggi dan tegap, tetapi juga menjamin kaki tidak cepat pegal meski harus berjalan menyusuri trotoar kota atau berdiri di dalam kereta komuter selama berjam-jam.

Selain sepatu kulit tanpa tali, alas kaki berjenis hibrida juga menjadi primadona baru. Sepatu hibrida adalah persilangan antara beberapa jenis sepatu yang berbeda untuk mendapatkan gabungan fungsi terbaiknya. Contoh yang paling laris saat ini adalah sepatu mules, yaitu perpaduan antara sepatu pantofel kulit di bagian depan namun terbuka di bagian tumit belakangnya layaknya sebuah sandal. Sepatu jenis ini sangat digemari karena sangat praktis untuk cuaca Indonesia yang sering berubah-ubah. Ia memberikan ilusi kerapian paripurna jika dilihat dari arah depan, namun memberikan sirkulasi udara yang luar biasa nyaman di bagian tumit, serta sangat mudah dilepas-pasang saat penggunanya harus beribadah di masjid atau memasuki rumah yang mengharuskan alas kaki dilepas. Keberanian para pria untuk bereksperimen dengan bentuk sepatu yang tidak konvensional ini menunjukkan bahwa mereka semakin luwes dan tidak lagi terkungkung oleh aturan berpakaian yang kaku peninggalan budaya perkantoran zaman dahulu.

fashion-pria-04
 

Evolusi yang tidak kalah menarik terjadi pada bagaimana pria membawa barang bawaan harian mereka. Dulu, pria yang membawa tas sering kali diidentikkan dengan tas ransel punggung yang besar dan berat, atau justru dompet tebal yang dijejalkan secara paksa ke dalam saku celana belakang hingga merusak bentuk celana dan memicu sakit tulang punggung. Saat ini, karena tuntutan barang bawaan elektronik yang semakin banyak seperti ponsel pintar, pelantang telinga nirkabel (earbuds), pengisi daya portabel (powerbank), hingga produk perawatan wajah ringan, pria mutlak membutuhkan wadah yang praktis namun tetap terlihat bergaya. Fenomena ini melahirkan tren penggunaan tas selempang kecil berstruktur tegas (structured sling bag) dan tas jinjing berukuran sedang (tote bag) berbahan kanvas tebal atau kulit sintetis berkualitas. Tas-tas ini dirancang dengan desain yang sangat bersih, tanpa banyak ritsleting atau kantong luar yang rumit. Selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan yang aman, kehadiran tas bersilang di dada ini berfungsi sebagai aksesori visual yang memecah kebosanan pada pakaian polos. Penambahan aksesori ini mempertegas kesan bahwa pria tersebut adalah individu yang terorganisir, rapi, dan peduli pada penampilannya secara detail.

Perubahan kecil namun berdampak besar juga terlihat pada tren penggunaan aksesori logam dan perhiasan pria. Maskulinitas modern tidak lagi antialergi terhadap perhiasan. Gelang kulit yang terkesan kasar atau jam tangan berdiameter raksasa yang sangat berat kini tergantikan oleh perhiasan logam berdesain sangat tipis dan minimalis. Banyak pemuda dan profesional kini tidak ragu melengkapi penampilan mereka dengan sebuah cincin perak polos tanpa permata di jari telunjuk, atau kalung rantai perak berukuran sangat halus yang bersembunyi di balik kerah kaus mereka. Bahkan, tren penggunaan mutiara air tawar berukuran kecil sebagai kalung pria, yang awalnya dipopulerkan oleh para musisi dunia dan kini diadaptasi oleh penggiat mode lokal, mulai diterima secara wajar di skena gaya hidup ibu kota. Aksesori-aksesori kecil ini tidak bertujuan untuk memamerkan kekayaan, melainkan berfungsi sebagai bumbu pelengkap yang memberikan sentuhan keunikan personal (personal statement). Sentuhan kecil ini membedakan seorang pria yang hanya sekadar memakai baju dengan pria yang benar-benar menata penampilannya secara utuh dan penuh kesadaran.

Tidak adil rasanya membicarakan tren mode tanpa membahas fenomena kebangkitan luar biasa dari merek-merek pakaian lokal asli Indonesia. Kesadaran untuk mendukung industri dalam negeri kini bukan lagi sekadar slogan kosong pemerintah, melainkan sebuah kebanggaan nyata di kalangan pria urban. Merek-merek lokal independen di kota-kota kreatif seperti Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta telah berhasil membuktikan bahwa kualitas jahitan, pemilihan bahan baku kain, dan riset desain yang mereka lakukan mampu bersaing, bahkan sering kali mengungguli, produk-produk keluaran pabrik internasional yang diproduksi secara massal. Merek lokal ini sangat diuntungkan karena mereka memiliki pemahaman yang jauh lebih akurat mengenai ukuran tubuh rata-rata orang Indonesia serta kecocokan material kain dengan iklim tropis yang lembap. Ketika seorang pria membeli jaket atau celana dari merek lokal, ia tidak hanya mendapatkan pakaian yang ukurannya langsung pas di badan tanpa perlu dipermak ulang di tukang jahit, tetapi ia juga ikut serta menghidupkan ekosistem perajin tekstil dan roda ekonomi kreatif di negaranya sendiri. Tren bangga menggunakan produk lokal ini adalah wujud nasionalisme modern yang sangat positif dan berkontribusi besar dalam menekan kebiasaan belanja pakaian impor secara berlebihan.

Pada akhirnya, merawat penampilan tidak lagi berhenti pada apa yang melekat di badan, melainkan juga bagaimana merawat badan itu sendiri. Berpakaian sebagus dan semahal apa pun akan terlihat redup jika tidak ditunjang dengan kebersihan diri yang prima. Keterkaitan antara gaya busana dan perawatan tubuh (grooming) pria kini semakin tidak bisa dipisahkan. Rutinitas mencuci wajah dengan sabun khusus, menggunakan pelembap kulit agar wajah tidak kusam, hingga mengoleskan tabir surya (sunscreen) sebelum keluar rumah demi mencegah kanker kulit kini telah menjadi standar kebersihan dasar bagi pria modern, bukan lagi dianggap sebagai aktivitas yang melulu identik dengan wanita. Rambut yang dipangkas rapi, aroma tubuh yang wangi karena penggunaan deodoran dan parfum yang tepat, serta kulit wajah yang bersih adalah kanvas utama yang menentukan apakah sebuah pakaian akan terlihat bagus saat dikenakan. Kesadaran menyeluruh ini menyempurnakan transformasi pria Indonesia menjadi sosok yang lebih bersih, sehat, dan menghargai tubuhnya sendiri sebagai aset yang tak ternilai.

Menganalisis seluruh pergeseran tren dari ujung rambut hingga ujung kaki ini, kita dapat menarik satu benang merah yang sangat jelas: ini bukan sekadar urusan berganti model baju. Menanggalkan pakaian sempit, menolak logo merek yang berisik, memilih warna-warna alam yang tenang, dan memprioritaskan kualitas kain adalah cerminan langsung dari perubahan cara berpikir yang jauh lebih dewasa. Pria tidak lagi merasa perlu membuktikan kejantanan atau status sosialnya melalui pakaian yang menyiksa fisik atau menguras isi dompet demi barang bermerek luar negeri. Mereka kini menyadari bahwa kemewahan sejati berawal dari kenyamanan mutlak saat bernapas, kelincahan saat melangkah, dan ketenangan pikiran karena tidak perlu pamer. Ketika seorang pria sudah merasa nyaman dan damai dengan dirinya sendiri di dalam pakaiannya, maka karisma, wibawa, dan kepercayaan diri yang asli akan terpancar dengan sendirinya tanpa perlu usaha keras.

Di Metavora kami memandang bahwa evolusi gaya busana pria menuju minimalisme elegan dan kenyamanan struktural ini adalah wujud positif dari pendewasaan karakter konsumen modern, yang kini jauh lebih cerdas dalam menyeimbangkan rasa hormat terhadap diri sendiri melalui pakaian yang berkualitas, fungsional, dan bebas dari keharusan untuk mencari pengakuan visual dari orang lain.

Baca terus artikel-artikel menarik dari Metavora seputar tren fashion urban, panduan gaya hidup pria cerdas, dan psikologi penampilan di era modern.